Josha Kiplek
Josha Kiplek

Iklan Banner 150 X 150

Josha Kiplek

Label

anak (1) artis (2) bisnis (2) dapur ibu (2) Dunia (3) Facebook (1) Free Download (1) Game (5) handphone (7) ibu dan anak (16) kasus (1) kesehatan (19) konsultasi (1) Music (2) Olahraga (2) Otomotif (16) politik (1) properti (5) Roda dua (1) Roda empat (1) sains (1) security (3) Seks (1) software (1) teknologi (16) Tradisional (1) umum (64) video (1) video Qiral (2) wallpaper (23) wanita (10) wisata (1)
Tampilkan postingan dengan label ibu dan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu dan anak. Tampilkan semua postingan

Anak Laki-laki Lebih Suka Main di Luar Rumah?

Written By Dunia Josha Siphe on Senin, 30 Juli 2012 | 10.16


Benarkah anak laki-laki lebih suka bermain di luar rumah sampai lupa waktu ketimbang anak perempuan? Bisa ya, bisa juga tidak. Dalam artian, tidak semua anak laki-laki suka bermain di luar rumah dan tidak semua anak perempuan lebih suka berdiam diri di rumah. Jadi bukan masalah gender, tapi anak laki-laki cenderung lebih suka bermain di luar rumah, karena sejumlah hal.
10.16 | 0 komentar | Read More

Tanda Anak Kelelahan Karena Padatnya Jadwal Kegiatan

Written By Dunia Josha Siphe on Kamis, 26 Juli 2012 | 19.46


Sekolah, les, kursus bermusik, kegiatan ekstrakurikuler memang bagus untuk perkembangan anak-anak. Tetapi jika anak terlalu sibuk karena jadwal yang padat setiap harinya, hal tersebut dapat menyebabkan kelelahan dan depresi pada anak.
19.46 | 0 komentar | Read More

Kenali Penyebab Apa yang Membuat Anak Malas ke Sekolah

Written By Dunia Josha Siphe on Senin, 16 Juli 2012 | 22.11


Banyak ditemui seorang anak merasa takut kembali bersekolah ketika tahun ajaran baru. Pada beberapa kasus, sekolah dianggap sebagai hal yang mengerikan bagi anak sehingga ia melakukan segala upaya agar tak kembali ke sana.
22.11 | 0 komentar | Read More

Mitos dan Fakta Seputar Ekowisata Perlukah Dimengerti?

Written By Dunia Josha Siphe on Selasa, 19 Juni 2012 | 00.46


Masa liburan sekolah seperti saat ini, saatnya mengajak anak-anak Anda berwisata. Ingin mencoba tujuan wisata berbeda dan lebih dekat dengan alam? Cobalah cari tujuan wisata yang bertema ekowisata.
00.46 | 0 komentar | Read More

Tips Mengajak Anak ke Dokter Gigi

Written By Dunia Josha Siphe on Rabu, 30 Mei 2012 | 18.32


Orangtua sebaiknya sudah mulai mengajak anak-anak ke dokter gigi begitu gigi mereka tumbuh. Kunjungan pertama tidak selalu untuk menangani masalah pada gigi, melainkan
18.32 | 0 komentar | Read More

Cara Mewaspadai Gangguan Bipolar pada Anak

Written By Dunia Josha Siphe on Senin, 28 Mei 2012 | 18.09


Gangguan Bipolar (GB) ternyata tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak bahkan sejak anak dilahirkan. Faktor keturunan atau genetik memiliki
18.09 | 0 komentar | Read More

Bolehkah Anak Dikenalkan Banyak Bahasa?


Sebagian orang tua khawatir dengan perkembangan anak-anaknya ketika sang buah hati mereka tumbuh di lingkungan dengan beragam bahasa. Ketika anak-anak, khususnya di usia prasekolah, harus dikenalkan pada bahasa asing selain bahasa ibu, banyak orang tua cemas karena belajar banyak bahasa akan menyebabkan anak mengalami kebingungan.

Akan tetapi, menurut pendapat pakar pendidikan anak usia dini yang juga psikolog pendidikan, Novita Tandry M.Psi, memperkenalkan beragam bahasa kepada anak di usia dini (di bawah 6 tahun) pada dasarnya tidak menimbulkan masalah, selama anak tersebut tidak mengalami kendala dalam kemampuan berbicara (speech).

"Semakin dini anak mengenal suatu bahasa, akan semakin baik untuk kemampuan bahasa mereka," ungkap Novita di sela-sela acara pembukaan SGM Prestasi Center di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (1/5/2012).

Novita menjelaskan, memperkenalkan suatu jenis bahasa kepada anak di usia dini adalah salah satu bentuk stimulasi linguistik. Bagi anak-anak yang tidak bermasalah dengan kemampuan bicaranya, stimulasi menggunakan beberapa bahasa tidak akan menjadi masalah. Ia memberikan contoh, anak-anak usia dini di negara-negara tetangga memiliki kemampuan bahasa yang lebih beragam karena faktor lingkungan yang sangat mendukung.

"Di negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, anak-anak sudah terbiasa mengunakan empat bahasa sekaligus saat mereka berusia 3 atau 4 tahun. Tiga bahasa lain yang mereka gunakan didapat dari lingkungannya,"tegas Novita.

Oleh karena itu, ia berpendapat selama anak-anak tidak mengalami gangguan dalam kemampuan berbicara, pengenalan bahasa lain di usia dini tidak menjadi masalah, bahkan dianjurkan. Hal sama tentu tidak berlaku untuk anak yang memiliki masalah dengan bahasa. Pada anak dengan gangguan bicara, lanjut Novita, penguasaan bahasa ibu harus diutamakan, sebelum dikenalkan pada bahasa lain.

"Pengenalan beragam bahasa adalah masalah konsistensi, bagaimana ayah dan ibu berbagi peran untuk mengajarkan bahasa kepada anak," ujar alumni University of New South Wales Australia ini.

Novita juga menekankan pentingnya stimulasi bagi anak-anak di usia dini demi perkembangan kecerdasan mereka. Selain dari orang tuanya di rumah, stimulasi juga kini dapat diperoleh anak-anak melalui pendidikan informal seperti pusat tumbuh kembang anak usia dini. Bentuk stimulasi antaranya meliputi stimulasi fisik untuk mengasah perkembangan motorik kasar dan halus, stimulasi kognitif untuk perkembangan intelektual dan stimulasi linguistik untuk kemampuan berbahasa.

"Banyak orang tua menganggap pendidikan anak usia dini tidak begitu penting dengan alasan anaknya menjadi stres atau kehilangan masa bermain. Padahal 70 persen pembentukan karakter manusia itu dimulai dari nol hingga tiga tahun," ujarnya.
homepage:http://health.kompas.com
18.02 | 0 komentar | Read More

Sekolah Bisa Jadi Sumber Stres Anak


Di sekolah, guru adalah pengganti orangtua bagi anak. Selain itu, tujuan pendidikan sesungguhnya adalah membentuk anak menjadi pribadi yang antara lain cerdas secara
17.55 | 0 komentar | Read More

Mempersiapkan Si Kecil Hadapi Stres


Anak-anak seakan mendapat tuntutan untuk menjadi yang terutama, dan tak pernah boleh menjadi yang terakhir dalam segala hal, baik di sekolah, di lingkungan pertemanan,
17.49 | 0 komentar | Read More

Pro-Kontra Empeng


Empeng, seperti namanya dalam bahasa Inggris yaitu pacifier memang difungsikan untuk menenangkan bayi. Perlu diketahui, bayi memiliki refleks menghisap dan tengah berada
17.38 | 0 komentar | Read More

Bayi Mengisap Jari, Perlukah Dicemaskan?


Setiap bayi pasti akan mengisap jari. Terlebih pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan, mengisap jari acap kali dilakukan. Hal ini menunjukkan si bayi dalam keadaan sehat dan normal, karena refleks isap memang sudah seharusnya dimiliki bayi sejak lahir.
17.33 | 0 komentar | Read More

Gagal Fase Oral Saat Bayi Pengaruhi Kepribadian Seseorang


Melarang bayi menghisap jari pada usia 0 hingga 18 bulan akan berisiko terhadap kematangan kepribadian anak jika dewasa kelak. Kenikmatan menghisap jari ini menjadi salah satu
17.30 | 0 komentar | Read More

Tips Mendidik Agar Anak Menjadi Cerdas

Written By Dunia Josha Siphe on Minggu, 13 Mei 2012 | 02.09

Menurut dr. Taufiq Pasiak, anak cerdas adalah anak yang otak rasional, otak emosional, dan fungsi-fungsi motoriknya berjalan secara baik. Jika hanya salah satu yang berkembang, itu akan menghilangkan salah satu bekalnya dalam mengarungi kehidupan dewasa yang lebih keras. Jauh lebih mudah meningkatkan kemampuan otak rasional dan fungsi motorik daripada otak emosional seorang anak.

Otak rasional berpusat di kulit otak (mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan berpikir rasional, seperti berhitung, memecahkan masalah, dan lain-lain). Otak emosional berpusat di sistem limbik (mengurusi soal perasaan: bagaimana kita menguasai diri, mengendalikan, dan bertindak sesuai dengan kadarnya).

Tips / cara membuat anak cerdas, jenius, dan kreatif, setidaknya ada 5 hal yang harus diperhatikan betul:

1. Makanan
Ini amunisi otak yang sangat penting. Anak-anak yang kekurangan gizi umumnya memiliki otak yang kurang berkembang. Konsumsi ikan yang cukup, ASI, vitamin, dan mineral merupakan amunisi yang tepat bagi otak. Apa pun kursus yang Anda berikan untuk anak anda tanpa memberinya makanan yang tepat, samalah artinya dengan mengisi ruangan tanpa menguatkan dinding-dindingnya. Gizi adalah bahan baku proses-proses seluler, terutama untuk pembangunan struktur otak.


2. Lingkungan
Makin bervariasi lingkungan hdup anak Anda, makin baik perkembangan otaknya. Warna, bentuk, orang-orang yang berbeda, suasana yang bervariasi, dan lain-lain lebih mudah menstimulasi otak dibandingkan yang homogen. Jika Anda menciptakan lingkungan yang kaya dengan permainan, otak anak Anda berkembang dengan sangat pesat. Karena itu, sebisa mungkin, tempat tidur, tempat belajar (terutama di sekolah-sekolah), dan ruangan keluarga dapat diubah setiap jangka waktu tertentu. Anda perlu juga mengajaknya ke tempat-tempat yang penuh dengan hal-hal baru, seperti di pantai, gunung, dan lain-lain. Semakin bervariasi lingkungan, semakin cepat koneksi sel saraf terjadi.

3. Pengalaman emosional
Sistem limbik lebih dulu matang dibandingkan dengan kulit otak. Akibatnya, anak-anak menjadi sangat peka terhadap rangsangan dan pengalaman emosional. Semua pengalaman emosional yang diberikan pada rentang usia 0-7 tahun ini akan sangat berpengaruh dalam membentuk jalinan antar sel saraf. Pada usia ini, kontrol diri, kesabaran, kerja sama, empati, dan lain-lain lebih mudah dilatih dan tertanam kuat dalam otak dibanding berhitung, membaca, atau kegiatan-kegiatan kalkulatif lainnya. Jangan lupa, kematangan emosional ini lebih menentukan kesuksesan anak Anda di masa depan ketimbang kemampuan berhitung dan main komputer.

4. Stimulasi rasional
Hal-hal yang baru (novelty), menantang (challenge), padu (coherent), dan penuh makna (meaningful) lebih cepat memengaruhi otak ketimbang hal-hal yang lazim dan biasa. Jika setiap hari Anda memperkenalkan kata-kata baru kepada anak Anda, teknik-teknik baru dalam berhitung, tugas-tugas yang menantang dan penuh makna (misalnya, membuat percobaan fisika yang berkenaan dengan hal-hal sehari-hari), otaknya akan lebih cepat berkembang. Hal-hal yang menantang, seperti menemukan bentuk tertentu dalam banyak bentuk, dapat memperbanyak hubungan sel saraf. Origami (seni melipat kertas) adalah salah satu cara memperbanyak hubungan sel saraf. Attention of details juga merangsang otak. Berikan sebuah batu kerikil atau dedaunan kepada anak-anak. Mintalah mereka mencermati alur, warna, bentuk, dan ciri-ciri lain yang tidak tampak jika hanya dilihat sepintas. Perhatian pada hal-hal kecil, terutama bentuk dan warna, membuat sinaps saraf bertambah banyak.

5. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik memengaruhi otak dengan tiga cara: 1) meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Artinya, oksigen, gula, dan zat gizi juga bertambah. 2) Memengaruhi produksi hormon NGF (Nerve Growth Factor); dan 3) merangsang produksi dopamin. Zat ini berfungsi penting dalam menata perasaan (mood) anak Anda. Semakin sering dan terampil ia melakukan kegiatan fisik, semakin baik perkembangan otaknya.

 Kematangan emosi memerlukan waktu tertentu untuk berkembang. Sedangkan kecerdasan rasional dapat Anda tingkatkan kapan saja Anda mau.
homepage:http://www.ibujempol.com
02.09 | 0 komentar | Read More

Resiko Melahirkan Terlalu Sering

Written By Dunia Josha Siphe on Sabtu, 12 Mei 2012 | 20.54


Memiliki banyak anak kini kurang diminati para orangtua dengan alasan biaya hidup dan pendidikan yang semakin mahal. Di luar masalah finansial sebenarnya melahirkan terlalu sering beresiko buruk bagi kesehatan ibu dan bayi.

“Makin sering hamil, makin buruk dampaknya bagi kesehatan karena meningkatkan risiko kematian ibu,” kata Dr.Philip Darney, direktur Bixby Center for Global Reproductive Health, Universitas California, AS, seperti dikutip Foxnews.

Menurut Darney, wanita yang melahirkan anak lima orang atau lebih memiliki risiko kehamilan bermasalah. Salah satu komplikasi yang mungkin dialami adalah perdarahan saat persalinan.

Di Indonesia sendiri, saat ini perdarahan masih menjadi penyebab utama kematian ibu saat melahirkan.

Rahim, organ tempat janin berkembang, terdiri dari jaringan otot. Kehamilan yang terlalu rapat akan mengendurkan otot-otot tersebut sehingga setelah persalinan rahim menjadi sulit berkontraksi untuk kembali ke ukurannya yang semula dan terjadilah perdarahan. Obat-obatan biasanya kurang berhasil mengatasinya.

Menurut penjelasan dr.Prima Progestian, Sp.OG, selain risiko perdarahan ada beberapa risiko yang harus dihadapi wanita yang melahirkan terlalu sering.

1. Risiko placenta previa dan plasenta akreta meningkat. Placenta previa adalah kelainan letak plasenta yang seharusnya di atas rahim malah di bawah, sehingga menutupi jalan lahir.

2. Meningkatnya intervensi dalam persalinan seperti pemasangan infus atau induksi (rangsangan) agar tanda persalinan muncul. Induksi bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan atau memecahkan kantung ketuban.

3. Usia ibu yang terlalu tua juga menyebabkan risiko kecacatan janin, komplikasi pada ibu (preeklampsia atau diabetes gestasional).

4. Risiko bayi dilahirkan prematur akibat jaringan parut dari kehamilan sebelumnya bisa menyebabkan masalah pada plasenta bayi.

Menurut dr.Prima, meski sampai sekarang belum ada batasan pasti berapa banyak ibu boleh hamil dan dioperasi caesar, namun menurut riset diperoleh kurva bahwa melahirkan anak di atas tiga orang maka risiko komplikasi akan meningkat.
homepage:http://www.beritadulu.com
20.54 | 0 komentar | Read More

Rasa Takut Melahirkan

Ada orang yang takut ketinggian, yang lain takut bulu, atau takut karet gelang. Lalu, ada sejumlah kecil perempuan yang ternyata sangat takut melahirkan. Rasa takut ini jauh melebihi ketakutan rata-rata perempuan pada umumnya tentang konsep melahirkan, sehingga mereka rela melakukan atau mengorbankan apa saja agar tidak mengalaminya. Takut melahirkan ini disebut sebagai tocophobia.

Tocophobia, yang berasal dari bahasa Yunani "tocos" (melahirkan anak) dan "phobos" (takut), dilaporkan menjangkiti satu dari enam perempuan di Inggris. Pada tingkat yang parah, perempuan yang mengidap tocophobia ini bahkan memutuskan untuk tidak hamil, meskipun sangat ingin punya anak. Mereka menempuh cara lain, misalnya mengadopsi.

Studi yang melibatkan 26 perempuan yang diterbitkan di British Journal of Psychiatry edisi tahun 2000 menyatakan bahwa menghindari kehamilan ini merupakan kondisi mengerikan yang terjadi sejak remaja, atau akibat trauma saat persalinan pertama. Phobia ini juga bisa merupakan gejala depresi menjelang persalinan.

Para peneliti menekankan perlunya para dokter untuk menyampaikan kondisi ini. "Hal ini lebih lazim daripada yang dipikirkan orang," kata Erica Lyon, penulis buku The Big Birth Book, yang juga konsultan untuk Tribeca Parenting di New York City.

Eric memberikan konsultasi untuk perempuan-perempuan matang yang menunda mempunyai anak. "Menurut saya, hal ini cenderung terjadi pada perempuan yang kepribadian tipe A," katanya. "Ia mungkin memiliki sejarah depresi atau pernah mengalami kelainan makan."

Umumnya, perempuan memang takut melahirkan karena merasa tidak mampu menahan rasa sakit. Namun banyak juga yang mengkhawatirkan sebab-sebab lain.

"Aku takut tubuhku menjadi rusak. Aku takut mengalami aneurisma dan mati. Aku bahkan takut kalau aku menikah, suamiku tidak tertarik lagi padaku setelah aku melahirkan. Aku takut aku tidak lagi menjadi diriku lagi," keluh Karen DuVall (23), mahasiswi dari Vacaville, California.

Alasan yang dikemukan para perempuan ini memang cenderung tidak rasional. Bila perempuan lain mampu menjalaninya, mengapa sebagian kecil perempuan ini tidak mau, atau tidak sanggup?

Menurut Anna North, contributing editor untuk situs perempuan Jezebel.com, ketakutan ini lebih terjadi karena kita sehari-hari dibombardir dengan kisah tentang selebriti yang sukses menurunkan berat badan, hanya beberapa minggu setelah melahirkan. Kecuali kita mempekerjakan pelatih pribadi dan ahli gizi, kita tidak bisa tampil menarik lagi setelah punya anak (padahal, menarik adalah atribut kita yang paling penting). Akibatnya, kita menganut konsep bahwa yang tubuhnya paling langsing dan kencang adalah yang diterima.

Baginya yang paling penting adalah meningkatkan layanan institusi kesehatan, agar mampu memberikan informasi dan layanan yang terbaik bagi pasien. Selain itu, mengubah konsep mengenai cantik-langsing yang diturunkan para selebriti tadi, karena mereka memang dibayar untuk selalu tampil memukau.

Lepas dari tekanan eksternal yang dialami para perempuan ini, tocophobia sebenarnya bisa diatasi dengan berbagai metode. Di antaranya, terapi perilaku kognitif yang menggunakan teknik pengurangan rasa takut, atau mengonsumsi obat-obatan antidepresan.
homepage:http://female.kompas.com
20.44 | 0 komentar | Read More

Bulu Mata Dipotong Apakah Bisa Lentik?


Hal yang sering ditanyakan orangtua adalah perlu tidaknya memotong bulu mata bayi. Tujuannya supaya bulu mata jadi lebih lentik. Pendapat ini, menurut dr Susmeiati H. Sabardi, SpKK, dari RS Jakarta, tidak dapat dibenarkan secara medis. Seperti halnya kondisi rambut, lentik tidaknya bulu mata terkait dengan faktor genetik, alias orangtua yang mempunyai bulu mata lentiklah yang besar kemungkinan akan menurunkan pada buah hatinya.

Meski tidak ada manfaat secara medis, masih ada saja orangtua yang menganggap hal tersebut harus dilakukan karena sudah tradisi. Bagi mereka yang akan melakukannya, yang harus diingat adalah jangan memotongnya terlalu pendek, karena bulu mata mempunyai fungsi sebagai pelindung mata dari kotoran atau benda asing agar tidak masuk ke mata. Kalau menginginkan bulu mata jadi terlihat indah, toh setelah dewasa bisa dilakukan riasan atau membentuknya dengan penjepit bulu mata, tanpa perlu melakukan "adegan berbahaya" saat anak masih bayi.
20.38 | 0 komentar | Read More