Josha Kiplek
Josha Kiplek
Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan

Kelaparan, Warga Korut Terpaksa jadi Kanibal Sebuah fakta bahwa kanibalisme meluas di area terpencil Korea Utara pada akhir era 90an.

Written By Dunia Josha Siphe on Sabtu, 12 Mei 2012 | 12.15




 Sebuah studi baru mengungkap sebuah fakta bahwa kanibalisme meluas di area terpencil Korea Utara pada akhir era 90an, saat terjadi krisis pangan yang menewaskan dua juta penduduk. Hal ini terungkap dari wawancara Korean Institute for National Unification terhadap sebagian dari 230 pembelot yang menyaksikan aksi kanibalisme dengan mata kepala sendiri.

Dilansir harian Telegraph, Jumat 11 Mei 2012, kasus kanibalisme yang paling baru terjadi pada 2011 di kota Musan. Kala itu, seorang ayah dan putranya dieksekusi pemadam kebakaran kota Doksong karena terbukti bersalah memakan daging manusia.

Sebelumnya pada Desember 2009, seorang pria di kota Hyesan dieksekusi karena membunuh seorang bocah perempuan dan mengonsumsi dagingnya. Pria ini dilaporkan menjadi kanibal setelah bencana kelaparan di Korut memburuk akibat inflasi dan berkurangnya suplai makanan.

Bahkan dalam salah satu kasus, seorang pria kedapatan menghabisi nyawa rekan kerjanya dengan sebilah kapak. Dia lantas memakan sebagian daging korban, dan sebagian lagi dijual ke pasar sebagai daging domba.

Studi yang akan diterbitkan di Korea Selatan pekan depan tampaknya menguatkan dokumen kepolisian Korut yang diselundupkan ke luar negeri oleh kelompok misionaris Caleb Mission tentang detail kasus kanibalisme .

Selama ini, Korut dituduh menggunakan suplai makanan untuk menakuti warganya sendiri dan mengalihkan perhatian dari pasar gelap. Korut juga dituduh menghambat penyaluran bantuan makanan dari badan internasional pada yang membutuhkan.
http://www.vivanews.com/
12.15 | 0 komentar | Read More

Dunia Presiden yang Tak Punya Mobil, Hanya Skuter Inilah si "Tuan Normal" Francois Hollande, Presiden Prancis yang baru.



 Pekan depan, Francois Hollande akan dilantik sebagai Presiden Prancis yang baru menggantikan Nicolas Sarkozy. Kontras dengan Sarkozy, Hollande benar-benar mencitrakan "Tuan Normal" alias orang kebanyakan.

Saking normalnya, Hollande tak memiliki mobil, hanya sebuah skuter bermerek Vespa. Meski tak punya mobil, asetnya lumayan, sebuah rumah di selatan Prancis, di pantai Riviera, yang bernilai 1,17 juta euro atau sekitar Rp14 miliar. Bersama ayahnya, Hollande juga berbagi kepemilikan dua apartemen di Cannes yang bernilai 370.000 euro.

Meski begitu, jika ditambah tabungan, kontrak asuransi dan furnitur, kekayaan totalnya sekitar Rp15 miliar saja. Sementara pendahulunya, Nicolas Sarkozy yang kenal sebagai "Presiden Bling Bling", pada Maret 2012 telah memiliki kekayaan lebih dua kali lipat dari Hollande yakni 2,7 juta euro atau Rp32 miliar.

Di Paris, pemimpin Partai Sosialis ini menyewa sebuah apartemen dan menggunakan skuter atau angkutan umum ke mana-mana. Dengan kekayaan yang hanya 1,2 juta euro, Hollande persis di bawah garis yang mewajibkannya membayar pajak kekayaan di Prancis.

Rumah di Riviera dibeli Hollande pada 1986, separuh dari harganya sekarang. Rumah ini tempat Hollande dengan pasangannya yang lama, Segolene Royal, yang memberinya empat anak menghabiskan musim panas.

Kini Hollande tinggal bersama Valerie Trierweiler, seorang jurnalis yang menyatakan tetap ingin bekerja, karena harus menghidupi tiga anak yang telah dimilikinya sebelum bertemu Hollande.
Maklum, hal pertama yang akan dilakukan Hollande jika sudah resmi menjabat presiden adalah memotong gaji presiden 30 persen yang mencapai 19 ribu euro atau Rp230 juta per bulan.
12.12 | 0 komentar | Read More

Jadi Penari Erotis, Wartawati AS Dipecat Sarah Tressler kemudian menggugat media tempatnya bekerja.



Seorang wartawan Texas dipecat dari pekerjaannya karena ketahuan bekerja paruh waktu sebagai penari erotis. Merasa telah menjadi korban diskriminasi gender, wanita ini menggugat tempat kerja lamanya.

Seperti diberitakan Reuters Jumat 11 Mei 2012, wanita bernama Sarah Tressler ini bekerja sebagai wartawan di harian Houston Chronicle.

"Saya sangat kecewa atas pemecatan ini, karena banyak editor yang mengatakan kerja saya bagus," kata Tressler.


Selain menulis untuk surat kabar, Tressler juga menulis sebuah blog anonim bertajuk 'Buku Harian Penari Erotis Yang Marah'. Dalam blognya, wanita berusia 30 tahun ini menggunakan nama 'Sarah' dan menulis tentang seluk beluk dunia penari erotis.

Siapa sangka, mingguan Houston Presskemudian mengungkap identitasnya dalam sebuah artikel berjudul 'Wartawan Saat Siang, Penari Erotis Saat Malam'. Setelah artikel itu dimuat awal tahun ini, Houston Chroniclememecat Tressler dengan klaim bahwa dia tidak menyertakan pekerjaannya sebagai penari erotis dalam data kepegawaiannya.

"Dalam formulir tidak ada pertanyaan yang menyangkut pekerjaan saya sebagai penari erotis, dan saya menjawab semua pertanyaan dengan jujur," katanya dengan kecewa. Dia pun melayangkan gugatan ke harian beroplah terbesar di negara bagian Texas dengan dibantu Komisi Kesetaraan Kesempatan Kerja.

Menurut pengacara Tressler, Gloria Allred, pemecatan kliennya tidak relevan karena pekerjaan sebagai penari erotis tidak mempengaruhi kemampuannya sebagai wartawan media besar. "Keputusan ini bias gender karena kebanyakan penari erotis adalah wanita, dan pemecatan karyawati hanya karena menjadi penari erotis tentu memiliki dampak yang besar," ujar Allred.

Tressler sendiri berencana melanjutkan karir wartawan di tempat lain. Hingga saat ini,Houston Chronicle menolak memberikan komentar. 
http://www.vivanews.com/
12.11 | 0 komentar | Read More